Pada awal abad ke-20, dunia Islam termasuk Indonesia memasuki era kebangkitan. Di tengah penjajahan Belanda, muncul gerakan pembaruan Islam yang menekankan kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Salah satu gerakan besar lahir pada 1912 di Yogyakarta, yaitu Muhammadiyah, yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Gerakan ini mendorong pendidikan dan pemberdayaan umat sebagai jalan menuju masyarakat Islam yang maju.
Dari Yogyakarta, gerakan Muhammadiyah menyebar ke berbagai wilayah Nusantara, termasuk Minangkabau di Sumatera Barat. Di Nagari Sialang, Kecamatan Suliki Gunung Mas, Kabupaten Lima Puluh Kota, Muhammadiyah hadir berkat perjuangan seorang pemuda bernama Alwi Syam. Bersama tokoh masyarakat seperti Datuk Mangkuto, Amili, Khatib Islami, Djamaran, dan Darwis, Alwi Syam berhasil mendirikan Muhammadiyah di Sialang pada 1 Januari 1941 (1 Muharram 1340 H).
Meskipun pengawasan Belanda ketat, semangat mereka tetap menyala. Ayat QS. Ali Imran: 104 menjadi motivasi: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.” Para pelopor Muhammadiyah di Sialang memaknai ini sebagai panggilan untuk berdakwah dan membina umat dengan keberanian dan keikhlasan.
Peran Perempuan: Lahirnya Aisyiyah di Sialang
Perkembangan Muhammadiyah di Sialang tidak lepas dari peran perempuan. Tirana, istri Alwi Syam, menjadi pelopor gerakan perempuan di kampung ini. Ia menyadari bahwa kemajuan umat membutuhkan peran aktif perempuan dalam dakwah dan pendidikan. Bersama beberapa sahabat perempuan, Tirana mendirikan Aisyiyah di Sialang.
Aisyiyah fokus pada pembinaan perempuan, pendidikan anak-anak, dan peningkatan kualitas keluarga muslim. Para ibu mulai mengadakan pengajian ibu-ibu, kelas mengaji anak-anak, dan pelatihan keterampilan rumah tangga. Semua kegiatan ini dijalankan dengan tekad kuat meski fasilitas terbatas dan pengawasan kolonial tetap ada.
Warisan Pendidikan dan Sosial
Sejak didirikan, Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sialang berperan besar dalam membentuk tatanan sosial dan pendidikan masyarakat. Organisasi ini memperkenalkan pengajian teratur, pendidikan formal dan nonformal, serta mendorong masyarakat hidup disiplin, bersih, dan mandiri. Selain itu, mereka aktif dalam kegiatan sosial, membantu anggota sakit, dan melanjutkan pekerjaan anggota yang terhenti.
Kini, jejak perjuangan Alwi Syam, Tirana, dan sahabat mereka tetap hidup. Berdirinya Mualimin Muhammadiyah dan Madrasah Ibtidaiyah (sekarang MDA Muhammadiyah) menjadi bukti keberlanjutan semangat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan di Sialang.
Meski beberapa dekade terakhir semangat ber-Muhammadiyah seakan memudar akibat kemajuan zaman, sejarah ini tetap menjadi kisah keberanian, keikhlasan, dan keteguhan hati dalam membangun peradaban umat. Kisah ini bukan hanya sejarah lokal, tapi juga bagian dari sejarah besar Indonesia dalam memperjuangkan kemajuan pemikiran dan pendidikan Islam.





